Posted in Uncategorized

Kemiskinan di Pedesaan (Selayang Pandang Kemiskinan di Desa Lebo, Kecamatan Sidoarjo, Jawa Timur)

Penulis: Adik Junaidatul Islamiyah 16040564067/ Sosiologi 16 C
Universitas Negeri Surabaya

Kemiskinan merupakan permasalahan pokok yang di hadapi sebuah negara yang notabene negara ketiga ataupun negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Menurut data BPS yang peulis adopsi dari jurnal penelitian Sugeng Harianto yang berjudul Relasi Orang Miskin dan Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan menunjukkan bahwa kemiskinan di Indonesia pada tahun 2010 berjumlah 31,7 juta orang (Harianto, 2018: 2). Tentunya ini merupakan jumlah yang sangat besar. Dan kita tahu bahwa permaslahan kemiskinan memiliki urgensi yang tinggi untuk segera ditemukan jalan keluarnya.
Jika kita melihat bagaimana teori pembangunan modernisasi, maka jalan keluar untuk mengentaskan kemiskinan adalah dengan mencontoh apa yang dilakukan Barat yang memiliki notabene negara maju. Mengadopsi apa yang dilakukan Barat dalam mengentaskan kemiskinan dan strategi-strategi menuju kesejahteraan. Penulis mendapatkan informasi dari jurnal yang berjudul Strategi Bertahan Hidup Rumah Tangga Miskin di Perdesaan karya Sugeng Harianto mengatakan bahwa pmerintah telah mengadopsi MDG atau Milenium Development Goals, MDG digunakan pemerintah Indonesia untuk melakukan pengentasan kemiskinan. (Harianto, 2016: 670)
Lokasi yang penulis jadikan bahan refleksi tentang kemiskinan adalah di desa Lebo, desa ini merupakan desa tempat penulis tinggal, ini menjadi lokasi desa yang penulis refleksikan karena ingin melihat lebih lagi bagaimana desa penulis termasuk desa miskin atau tidak, dan program pemerintah apa saja yang sudah ada untuk pembenahan perkonomian dan pengentasan kemiskinan. Menurut geografis, Desa Lebo termasuk dalam kabuapaten Sidoarjo dan provinsi Jawa Timur. Kemiskinan di daerah Jawa Timur Pada tahun 2008, BPS Jawa Timur mencatat jumlah orang miskin menjadi 6,651 juta (16,68%), dan berkurang menjadi 6,02 juta (18,51%) (Harianto dkk, 2018:1). Penulis belum tahu pasti data detail masyarakat miskin di desa ini. Oleh karena itu, tulisan ini dapat dijadikan acuan untuk pengajuan penelitian desa Lebo dan bagaimana optimalisasi kinerja perangkat desa dalam membangun desa Lebo. Penulis akan menguraikan tulisan ini bukan base on data BPS, tapi base on observasi dan wawancara sedikit dengan warga tentang pengentasan kemiskinan, yang merupakan refleksi penulis dari pengalaman penulis sebagai warga desa Lebo.
Warga desa Lebo dari pengamatan penulissecara bangunan rumah tidak terlalu parah. Jika BPS mengasumsikan bahwa masyarakat miskin mempunyai standar bangunan yang memakai kayu kualitas jelek, sumber penerangan bukan listrik,, jenis bahan bakar memasak kayu/minyak tanah/arang, jarang atau tidak pernah membeli daging/ayam/susu setiap minggunya, anggota rumah tangga menyediakan makan hanya dua kali dalam satu hari, tidak mampu membeli pakaian atau hanya membeli pakaian baru satu stel per tahun, jika sakit tidak berobat kareena tidak ada biaya berobat, pekerjaan utama kepala keluarga menjadi buruh kasar atau tidak mampu untuk melakukan pekerjaan, pendidikan tertinggi yang ditamatkan kepala keluarga SD ke bawah, dan ada tidaknya barang dalam keluarga yang dapat dijual senilai dengan limaratus ribu rupiah. Jika dengan menggunakan standart itu, maka masyarakat miskin di desa Lebo tidak banyak, bahkan tidak ada yang memenuhi semua standart itu, hanya beberapa standart saja yang dialami masyarakat di desa Lebo ini.
Selanjutnya, jika kita memakai standar kemiskinan yang ditetapkan oleh BKKBN maka reflesksi saya tentang kemiskinan di desa Lebo adalah tidak parah juga. Hal ini dapat terdefinisi karena menurut BKKBN masyarakat dikatakan miskin jika tidak memenuhi salah satu atau lebih dari enam indicator penentu kemiskinan perekonomian sebagai berikut:
Melaksanakan ibadah menurut agama oleh masing-masing anggota keluarga
Pada umumnya seluruh anggota keluarga makan dua kali sehari atau lebih
Anggota keluarga memiliki pakaian berbeda untuk di rumah, bekerja/sekolah dan bepergian
Bagian lantai yang terluas bukan dari tanah
Paling kurang sekali seminggu keluarga makan daging/ikan/telor
Setahun terakhir seluruh anggota keluarha memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru.
Dalam standart itu, yang paling banyak tidak tepenuhi standar masyarakat miskin di desa Lebo adalah karena tidak memenuhi poin keempat. Namun, ketika terdapat survey bantuan bedah rumah oleh pemerintahan yang memenuhi standart untuk dilakukan bedah rumah hanya lima rumah saja dalam satu desa. Ini berarti jika menggunakan standart bedah rumah berdasarkan bangunan, masyarakat miskin di desa Lebo hanyalah lima kepala keluarga saja.
Penulis secara pribadi melihat ada perbaikan perekonomian di desa Lebo bukan karena bantuan yang diberikan pemerintah, tapi karena adanya lahan yang terkena landasan. Banyaknya lahan warga yang terlandasi membuat masyarakat desa Lebo banyak yang naik haji dan umroh melakukan ibadah dengan baik. Kalau penulis refleksikan beberapa tahun lalu sebelum adanya landasan bantuan pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan yang sifatnya top down seperti bantuan BLT dan raskin belumlah optimal dalam mengentaskan kemiskinan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena bantuan tersebut hanya memberikan bantuan yang sifatnya sementara. Rata-rata masyarakat mengunakan uang BLT hanya untuk membayar hutang di bank, membayar hutang SPP sekolah anaknya, penebusan ijazah, dan sebagian habis untuk belanja makanan di lijo-lijo.
Selain itu, penulis juga merefleksikan bagaimana proses pemberian BLT yang tidak tertandar, karena beberapa rumah tangga menengah juga mendapatkan bantuan tersebut. Hal ini seperti hasil temuan Sugeng Harianto dalam jurnalnya yang berjudul Relasi Orang Miskin dan Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan menemukan bahwa ada fenomena memiskinkan diri atau istilah yang digunakan untuk penerima bantuan pemerintah yang merupakan warga masyarakat yang tergolong menengah, bukan masyarakat miskin. Dan hal tersebut juga terjadi di desa Lebo. Bantuan tersebut tidak maksimal karena bantuan pada kenyataannya tidak mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan hanya meringankan beban kemiskinan mereka saja karena sidat bantuannya yang cepat habis.
Refleksi penulis terhadap bantuan yang ada di desa Lebo pemerintahannya atau perangkat desanya kurang tanggap dalam menerima informasi dan penerapan bantuan. Mengapa demikian? Karena baru-baru ini pemerintah kabupaten Sidoarjo memiliki program 1000 jamban dan perdesa setidaknya memiliki 3 kesempatan untuk mendapatkan pembangunan jamban, namun kenyataannya program ini tidak dirasakan di desa Lebo. Padahal faktanya ada beberapa masyarakat yang rumahnya belum memiliki jamban.
Kemiskinan yang ada di desa Lebo pada saat ini tidak telalu tampak. Jika kita melihat kemiskinan dengan melihat ada tidaknya realitas masyarakat yang melakukan strategi bertahan hidup seperti yang dikemukakan Sugeng Harianto dalam Strategi Bertahan Hidup Rumah Tangga Miskin yang di dalamnya terdapat 4 strategi yaitu (Harianto, 2016: 669-696): (1) mengatur pola makan, di mana konsep 4 sehat 5 sempurna hanya pada tataran pengetahuan saja tidak pada penerapan pola makan (2) mengembangkan ekonomi subsisten (3) gali lubang tutup lubang (4) ketergantungan pada bantuan. Maka masyarakat miskin desa Lebo melakukan kecenderungan strategi bertahan hidup pada poin satu dan empat. Kedua poin tersebut adalah kebiasaan strategi yang dilakukan masyarakat lebo dalam bertahan hidup.
Asumsi saya bahwa kemiskinan yang ada di desa Lebo teratasi bukan karena bantuan dari program-program yang dibuat pemerintah. Justru masalah sedikit terselesaikan untuk sementara karena adanya tanah yang terkena landasan. Ini membuat masyarakat desa Lebo mendadak mapan. Mengapa saya bilang masalah kemiskinan sedikit terselesaikan? Hal ini dikarenakan tanah yang merupakan modal sudah terjual dan sudah berganti status kepemilikinya kepada piha-pihak yang ingin membangun industri perumahan. Tidak selalu, uang yang didapatkan dari landasan digunakan untuk menabung tanah kemabali atau untuk investasi usaha, bisa juga masyarakat menggunakannya sebagai strategi bertahan hidup atau memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Dalam analisis saya setelah membaca realitas dan mengevaluasi bagaimana program bantuan pemerintah yang ada di desa Lebo, sebaiknya bantuan di desa Lebo tidak berupa bantuan yang sifatnya jangka pendek, seperti raskin atau BLT. Tapi penulis mengharapkan bantuan berupa pemberdayaan masyarakat yang tuntas dan selalu di evaluasi. Pemberdayaan terutama dilakukan kepada ibu-ibu agar dapat produktif membantu xxperekonomian keluarga.

DAFTAR PUSTAKA
Harianto, Sugeng., dkk. 2014. Characteristic and Social Processes of Poverty Reduction in Rural Community: An Empirical Finding. (Diakses online. http://www.researchgate.net)
Harianto, Sugeng. 2016. Strategi Bertahan Hidup Rumah Tangga Miskin di Pedesaan. Surabaya: Unesa University Press.
Harianto, Sugeng. 2018. Relasi Orang Miskin dan Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan. (Diakses online. http://www.researchgate.net)

Advertisements
Posted in Uncategorized

Tentang Kita

Ribuan asa terpendam sudah

Dalam bait-bait yang ter reka dalam untaian kata

Berjuta hadangan dan terpaan

Tak sanggup lagi tuk menopangnya

Entah mengapa,  yang pasti karena kedirian kita

Tahu arah,  tapi jalan terjal tak mampu melaluinya

Itulah yang terjadi kala keputusan tak nyata dalam tindakan

Kini berbeda sudah, peran berbeda,  namun kita pastikan masih dalam arah yang sama

Yang siap sedia untuk melangkah, mengerahkan tenaga

waktu terjalani untuk bekal diri

Ya,  membentuk diri untuk tak terlena lagi dalam buaian kebahagiaan yang tak pasti

Meski tak sanggup lagi berlari,  langkah pelan ini pasti

Pasti untuk tujuan abadi dan mengabdi

Posted in Uncategorized

Sejauh Mata Memandang

Awal tahun 2017, menjadi awal tahun yang kurang mengesankan karena kita disuguhi dengan meroketnya harga kebutuhan sehari-hari. Cabai,  yang merupakan bahan makanan yang setidaknya menjadi bahan wajib di resep makanan Indonesia di awal tahun harganya melambung tinggi. Harganya mencapai ratusan ribu dari harga semula puluhan ribu. Tentunya ini menjadi keadaan yang lumayan mengagetkan. Belum lagi kenaikan listrik 900 volt ampere,  kenaikan ini karena sudah tidak ada lagi subsidi untuk penggunanya dan digolongkan dalam 12 golongan listrik non-subsidi lainnya. Kenaikan ini akan dilakukan bertahap pada Bulan januari,  maret, dan mei. 

Kenaikan harga beberapa produk kebutuhan agaknya cukup mengagetkan bagi masyarakat. Khususnya kenaikan cabai yang merupakan makanan berbagai macam lapisan masyarakat. Disini masyarakat banyak yang resah atas kenaikan-kenaikan harga. Di desa-desa muncul keluh kesah mengenai kesejahteraan buruh. Buruh pabrik banyak yang mengeluh soal bagaimana masa depan mereka,  untuk sementara ini ada buruh dan karyawan pabrik yang tidak ada lagi jam untuk lembur sehingga penghasilan turun dari biasanya. Ada juga buruh yang terkena phk masal. 

Masalah kehidupan yang kompleks akan membawa kita pada dua pilihan untuk kita ambil tindakan terhadap apa yang terjadi. Pilihan pertama kita bisa memilih sebagai orang yang apatis terhadap realita yang terjadi. Siapapun boleh memilih jalan ini karena hidup adalah tentang bagaimana kita menjalaninya dengan pilihan dari berbagai alternatif  pilihan. Pilihan kedua adalah menjadi orang yang peduli. Peduli disini kita mengambil tindakan untuk memecahkan masalah yang ada dengan mencari informasi lebih banyak mengenai sebuah masalah terutama latar belakang terjadinya masalah sehingga akan tersusun praktis solusinya.

Semua ini tergantung bagaimana kita menyikapi masalah dan pilihan mana yang akan kita pilih. Yang pasti kita harus bertindak bijak atas problematika yang ada. 

Posted in Uncategorized

HBD eaa

Happy birthday kakak muda 😄😘. Iya tepat 1 januari ini genap 8 tahun. Mas sepupuku yang paling muda dan tercakep. Semoga menjadi pribadi yang luar biasa,  bisa membanggakan keluarga, rajin ibadahnya,  Cinta sosial, dan gak egois. Selalu semangat belajarnya ya!  Jangan sepak bola teruus,  jangan kelewatan juga nge game nya. Gaapa sih main,  tapi jangan lupa belajar,  ngaji n sholatnya. Oh ya maafkan adekmu ini yang belum bisa meluangkan waktu untuk badminton,  tiap kali hari minggu aku mengiyakan untuk diajak badminton,  tapi aku selalu gk nongol di lapangan.  Insyaallah klok aku bener2 free pasti main badminton lagi kok. GBU  😘😍😘

Posted in Uncategorized

Refleksi

​                                  
Tap.. tap.. tap.. langkahku sedikit merintih

kutengokkan mata dari kesendirian berbalik dalam rona keramaian

iya, sesak penuh suasana dlm sekejap saja pandangan

kulihat mereka berlari dalam mrebut kemenangan

denga kuda-kuda yg istimewa

mereka brlomba utk sbuah tujuan

ada mesin intlektual

dengan perisai ideologi

ada juga pedang keberanian

yang slalu ter’asa’ dengan penuh kesiapan

banyak gerombolan penuh asa 
Ada gerombolan lain pula yg ingin mematikan langkah gerombolan lainnya

Saling beradu dalam medan pertempuran

Mengadu mesin mana yang paling brkualitas

Mengadu perisai mana yang paling kuat

Mengadu pedang mana yang lebih dulu tajam dlm menghempaskan musuh

Mereka saling berjuang satu sama lain
Baru kusadari betapa kompleksnya kehidupan ini

baru kusadari betapa kerdilnya diri ini

hidup dalam sebuah tempurung

yang kuanggap sebagai sebuah kenyamanan
Baru kusadari ada kesalahan pada diriku

dalam menerjemahkan zona kenyamanan

asyik dalam tempurung sendiri seperti kura-kura

yang sedikit ragu dlm setiap langkah

sangat pelan dlm melangkah, yg kadang tanpa kepastian

Trlalu jumawa, tempurungkulah kebanggaanku

Padahal ketika mesin menggilas tempurungku

Hancur leburlah sudah
Namun,  aku percaya bahwa aku punya perisai yang kuat

Iya,  sangat kuat,  karena slalu ku tanam meski langkahku untuk tujuanku masih teragak-agak

Teragak-agak dalam sebuah ketakutan

Untuk melangkah jauh dari tempurung yang seolah kebanggaan
Hanya saat ini kucoba brlari dlm tmpurung kenyamanan

Mengembangkan mesin agar menjadi kualitas

Terus memajukan perisaiku,  dengan aksi yang pasti

Tak lupa meng’asa’ pedangku dengan kemantapan.

Ku yakin akupun dpat meraih tujuanku

Posted in Uncategorized

RANGKUMAN BUKU ILMU PENGETAHUAN POPULER

 

Judul Buku             :  Merawat Cattleya

Pengarang        :  Dra.Dyah Widiastoety Darmono, M.S.

Penerbit          :  Penebar Swadya

Jumlah Halaman :  63 Halaman

 

DAFTAR ISI

PRAKATA……………………………………………..V

  1. MENGENAL CATTLEYA………………………… 1
  2. Mengapa Dinamakan Cattleya………………….. 1
  3. Mengenal Karakteristik Cattleya………………. 4
  4. RAGAM JENIS CATLLEYA………………………. 11
  5. Catllleya Spesies……………………………… 11
  6. Catlleya Hibrida………………………………. 19
  7. MEMILIH TANAMAN CATTLEYA………………… 27
  8. Memilih Bibit Dalam Botol……………………… 28
  9. Memilih Bibit Communty pot (Compot)………….. 28
  10. Memilih Bibit dalam Bentuk Individu……………  29
  11. Memilih Tanaman Remaja………………………. 30
  12. Memilih Tanaman Berbunga……………………. 31
  13. MERAWAT CATTLEYA…………………………… 33
  14. Memperhatikan Kebutuhan Cahaya Matahari…… 33
  15. Memahami Suhu Ideal…………………………. 34
  16. Mengatur Kelembapan…………………………. 34
  17. Memilih Media Tumbuh………………………… 35
  18. Melakukan Pemupukan…………………………. 37
  19. Melakukan Penyiraman………………………… 38
  20. Melakukan Repotting Pada Saat yang Tepat…… 39
  21. HAMA DAN PENYAKIT…………………………… 45
  22. Mencegah dan Mengatasi Hama…………………. 45
  23. Mengendalikan Penyakit…………………………. 48
  24. MENCEGAH KERONTOKAN BUNGA CATTLEYA…….. 54
  25. Faktor Alamiah…………………………………. 54
  26. Faktor Genetik…………………………………. 54
  27. Faktor Iklim……………………………………. 55
  28. Faktor Hama dan Penyakit……………………… 57
  29. Faktor Pemupukan………………………………. 59

DAFTAR PUSTAKA………………………………………. 61

RANGKUMAN

BAB 6 MENCEGAH KERONTOKAN BUNGA CATTLEYA…..   54

  1. Faktor Alamiah…………………………………. 54
  2. Faktor Genetik…………………………………. 54
  3. Faktor Iklim……………………………………. 55
  4. Faktor Hama dan Penyakit……………………… 57
  5. Faktor Pemupukan………………………………. 59

 

 

RANGKUMAN :

MENCEGAH  KERONTOKAN CATTLEYA

Kerontokan cattleya disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:

  1. Faktor alamiah

Rontoknya bunga tidak dipermasalahkan bila terjadi karena faktor alamiah, apabila telah tiba saatnya karena pengaruh waktu, maka lapisan sel tersebut akan semakin menipis dan mengering sehingga bunga akan rontok dengan sendirinya.

  1. Faktor genetik

Bunga ceat layu karena faktor genetik dapat diperbaiki dengan persilangan.

  1. Faktor iklim, terdiri dari :
  • Hujan

Hujan terus menerus menyebabakan aerasi dan draenasi udara terganggu.akibatnya proses fisiologi terhambat sehingga bunga akan mudah rontok

  • Suhu

Musim kemarau atau suhu udara sanga tinggi yang berkepanjangan menyebabkan anggrek terganggu proses fisiologinya. Akibatnya, bunga menjadi layu, berkerut dan akhirnya rontok.

Agar bunga cattleya tidak cepat layu dan cepat rontok disekitar tempat penanaman disemprot air untuk meningkatkan kelembapan dan menurunkan suhu.

  • Angin

Angin yang bertiup sangat kencang secara berkepanjangan maka akan dapat merobohkan tanaman dan mematahkan tangkai bunga, sebaiknya di sekeliling penanaman  di beri pelindung atau penahan angin seperti, paranet, papan kayu, dll.

 

  1. Faktor hama dan penyakit

Bentuk serangan hma pada cattleya biasanya dengan memekan bagian-bagian tanaman  seperti daun, bunga, dll. Akibat serangan hama tersebut helaian daun atau bunga menjadi robek.penyakit pada cattleya adalah penyakit yang disebabkan oleh jasad renik atau potagen seperti cendawan, bakteri, dan virus yang mengisap cairan dalm jaringan tanaman. Upaya untuk memperpanjang daya tahan bunga adalah dengan melakukan pencegahan daripada pengobatan.

  1. Faktor pemupukan

Kuantitas dan kualitas tanaman sangat ditentukan oleh masa prapanen  oleh karena itu pemupukan mutlak diperlukan dalm pemeliharaan cattleya tergantung pada umur tanaman, jenis tanaman , saat pemupukan, frekuensi pemupukan, dan dosis pupuk.

Pada fase pertumbuhan, tanaman ini membutuhkan unsur makro (C, H, O, N, S, P, K, Ca, Mg) dan unsur mikro (Fe, Cl, Zn, Mn, Cn, B). Oleh karena itu dalam melakukan pemupukan diperlukan pupuk majemuk yaitu yang mengandung unsur makro dan mikro. Sebaiknya tidak hanya menggunakn pupuk majemuk saja, tetapi manggunakn lebih dari 2 jenis pupuk majemuk agar saling melengkapi.